
PENDIDIKAN KARAKTER
mulai terdengar sejak tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter
semakin nyaring sekarang ini. Adalah seorang Thomas Lickona yang
dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya, ''The Retrun of
Character Education''. Buku ini membawa perubahan di dunia Barat bahwa
pendidikan karakter adalah sebuah keharusan. Dari sinilah awal
kebangkitan pendidikan karakter.
Pendidikan Karakter itu bertujuan menjadikan generasi siswa yang unggul
dan tangguh serta mempunyai daya saing, dengan memberi pelatihan budi
pekerti dan keagamaan yang baik kepada siswa. Sebelum menerapkan
pendidikan karakter, para guru sebaiknya memberikan contoh yang baik
sehingga apa yang dilakukan tidak sia-sia. Mulai sekarang para guru
harus memberi contoh terlebih dulu kepada murid mereka agar pendidikan
karakter yang diterapkan pada anak menjadi lebih mudah. Bagi saya
pribadi, yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi guru sekolah dasar,
saya menilai, program pendidikan karakter sangat tepat diterapkan di
sekolah sebagai penyaring arus globalisasi dan kemajuan teknologi. Oleh
sebab itu, guru harus dapat memberikan materi saat sebelum mengajar dan
menyisipkan pendidikan karakter dan budi pekerti, adat istiadat, budaya
daerah dan sopan santun yang merupakan keunggulan untuk diajarkan di
sekolah.
Beruntung pengetahuan tentang pendidikan karakter makin komplit setelah
saya mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga
Provinsi Bali sebagai duta Bali untuk mengikuti pemilihan model terbaik
best practise pelaksanaan pendidikan karakter sekolah dasar tingkat
nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementian Pendidikan Nasional.
Kita tahu, belakangan ini pendidikan karakter sedang gencar-gencarnya
dilaksanakan dalam program pendidikan nasional. Pembangunan karakter
(character building) melalui pendidikan karakter (character education)
dipercaya sebagai keniscayaan apabila Indonesia ingin bermetamorfosa
menjadi bangsa mampu berkompetisi dengan bangsa lain di dunia.
Tingkat Dasar
Hal dasar bagi pendidikan karakter, adalah membentuk anak didik yang
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam arti pendidikan ini harus
dimulai usia dini. Anak didik di tingkat sekolah dasar, diajarkan
keindahan beragama. Perlunya sekolah menyediakan ruang-ruang dan waktu
khusus untuk perayaan agama. Karena Indonesia adalah masyarakat majemuk,
ada baiknya sekolah ikut terlibat merayakan hari-hari besar agama.
Misalnya, merayakan Idul Fitri di sekolah untuk siswa Islam. Merayakan
Natal. Dengan kedekatan inilah para siswa otomotatis karakternya
terbentuk untuk saling menghargai perbedaan. Dan, sadar bahwa Indonesia
adalah kemajemukan. Perbedaan yang ada adalah keindahan. Dengan adanya
kesadaran ini tentu akan membuat anak didik terbentuk karakternya untuk
saling menghormati dan menghargai antarteman sekelas. Terus berkembang
antarkelas. Kelak mereka tumbuh dan berbaur di masyarakat tentu dengan
bekal cukup tentang pendidikan karakter yang diselipkan tanpa sadar
ditingkat sekolah dasar.
Karakter sebagaimana didefinisikan Ryan dan Bohlin, mengandung tiga
unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai
kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).
Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu seringkali dirangkum dalam
sederet sifat-sifat baik.
Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah
upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar tertentu
atau aturan-aturan yang disepakati. Upaya ini juga memberi jalan untuk
menghargai persepsi dan nilai-nilai pribadi yang ditampilkan di sekolah.
Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, tetapi
prakteknya meliputi penguatan kecakapan-kecakapan yang penting yang
mencakup perkembangan sosial siswa.
Lebih jauh dari itu, karakter bangsa dipercaya akan sangat menentukan
kalanggengannya. Apabila sebuah bangsa mengalami kejatuhan karakter,
sangat boleh jadi bangsa tersebut akan kehilangan segala-galanya.
Karakter diyakini sebagai kunci penting menjadi sebagai bangsa besar
bangsa yang menghargai kemajemukan. Yang memang telah diwariskan untuk
bangsa ini, bangsa Indonesia.
Isu
Di samping itu ada satu lagi jenis pendidikan yang sebelumnya juga
menjadi isu dalam pendidikan nasinal yakni pendidikan moral. Terminologi
pendidikan moral (moral education) dalam dua dekade terakhir secara
umum diajarkan di sekolah-sekolah. Pendidikan moral cenderung
disampaikan untuk memberi penekanan kepada peserta didik akan
nilai-nilai yang benar dan nilai-nilai yang salah.
Berbeda dengan penerapan nilai-nilai itu dalam kehidupan pribadi,
keluarga, dan masyarakat tidak mendapat porsi yang memadai. Dengan kata
lain, sangat normatif dan kurang bersinggungan dengan ranah afektif dan
psikomotorik siswa. Namun demikian, terminologi ini bisa dikatakan
sebagai terminologi tertua dalam menyebut pendidikan yang bertujuan
mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan manusia.
Oleh karenanya para ahli berpendapat bahwa pendidikan karakter memiliki
makna lebih tinggi daripada pendidikan moral. Karena dalam pendidikan
karakter, di sana tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang
salah, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) baik
sehingga siswa didik menjadi faham, mampu merasakan, dan mau melakukan
yang baik. Kalau moral adalah pengetahuan seseorang terhadap hal baik
atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat seseorang yang langsung
bersumber dari otaknya.
Maka apabila para peserta didik terus menerus diberi asupan pendidikan
karakter secara konsisten, tentunya akan menghasilkan peserta-peserta
didik yang berkarakter.
Mantan Menteri Pendidikan kita, M Nuh mengungkapkan, budaya terbagi
menjadi dua aspek, yaitu budaya sebagai tontonan dan budaya sebagai
tuntunan. Budaya sebagai tontonan mengandung nilai ekonomis dan bukan
bagian dari kita, melainkan masuk dalam Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif. Sementara, budaya sebagai tuntunan, erat kaitannya
dengan nilai-nilai yang dikandung di dalamnya. Maka, sesuai jika
dimasukan dalam bidang pendidikan.
Nilai-nilai budaya, seperti kejujuran dan kesetiakawanan inilah yang
akan dibangun dalam diri para pelajar agar sesuai dengan pendidikan
karakter yang sedang digalakkan untuk siswa di Indonesia.
Mengenai, penambahan bidang budaya dalam Kemedikbud ini, lanjutnya,
memiliki tiga tujuan utama. Pertama, membangun nilai kebudayaan yang
melekat dalam pendidikan sesuai dengan pendidikan karakter dan
diaplikasikan dalam budaya sekolah (school culture). Untuk menumbuhkan
nilai kecintaan anak-anak terhadap budayanya sendiri. Salah satunya
dengan mengunjungi museum yang merupakan tempat penyimpanan warisan
bangsa. Hal ini juga telah diperkenalkan pada sekolah yang saya pimpin.
Ada waktu jeda setelah UTS (Ulangan Umum Semester) biasanya anak-anak
mengunjungi objek wisata seperti Desa Budaya Kertalangu, Museum Bali,
Taman Makam Pahlawan Margarana. Hal ini bisa jadi pegangan mereka untuk
menyeimbangkan antara akademik dan sosial.
Pendidikan karakter bagi saya adalah solusi untuk memberi ruang-ruang
baru dan penyegaran yang komprehensif bagi anak-anak, terutama di
tingkat sekolah dasar. Perkembangan budaya kosmopolit, kapitalisme,
ekonomi global, dan pesatnya perkembangan teknologi tidak akan membuat
anak-anak menjadi cyborg. Pendidikan karakter cara tepat untuk
mengontrol siswa menjadi lebih baik dan humanis. Penerapan-penerapannya
memang perlu diambil oleh sekolah. Sosialisasi dengan tugas berkelompok,
misalnya: di sekolah yang saya pimpin anak-anak ditugaskan untuk
berlatih table manner menyiapkan menu empat sehat lima sempurna
berkelompok. Masing-masing anak membawa minuman, makanan, buah yang bisa
dimakan bersama teman dan guru dalam menja makan. Untuk religius,
mengucapkan selamat hari raya. Anak-anak yang merayakan hari raya
disuruh berdiri di depan kelas, siswa yang berbeda agama menyalami.
Terlihat kecil memang. Tapi efeknya tetap tumbuh sesuai pertumbuhan
anak-anak. Mengumpulkan supermi, atau alat tulis kemudian disumbangkan
pada yang membutuhkan.Pendidikan karakter, memang cara tepat dan cepat
untuk memproteksi anak dari hal-hal negatif. Dan sekolahlah tempat
menggalinya.
18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa Sebagai Salah Satu Antisipasi Tawuran Pelajar
1. Religius
2. Jujur
3. Toleransi
4. Disiplin
5. Kerja Keras
6. Kreatif
7. Mandiri
8. Demokratis
9. Rasa Ingin Tahu
10. Semangat Kebangsaan
11. Cinta Tanah Air
12. Menghargai Prestasi
13. Bersahabat/Komunikatif
14. Cinta Damai
15. Gemar Membaca
16. Peduli Lingkungan
17. Peduli Sosial
18. Tanggung Jawab